hujan diawal juli
hujan di awal juli
adalah tubuhmu yang rinai dihalaman
atau seribu kunang kunang melebihi bintang di langit langit kamar
:pertemuan rindu dan rindu, katamu
aku benar benar menjadi angin, saat itu
memeluk mesra tubuhmu
menghalau matahari yang mendera bulan dikepalamu
atau, aku adalah kuas yang melukis di kanvas dadamu
kita banyak bicara soal pendidikan yang tidak mendidik
soal cita cita, soal agama, soal anak sekarang yang suka mengangkat parang
kemudian menusukkannya pada siapa dan apa saja,
soal negara yang pelupa dan alpa bagi kesejahteraan rakyatnya
dan soal soal yang belum pernah terjawab
hujan di awal juli
adalah tubuhmu yang terbentang disepanjang jalan
memaknai kelokan dan tikungan tidup yang mulai redup
di kota lancor, kau tidak saja suka ngoleksi batik,
mengukur jalan, dan malam
tapi kau juga menghapal nama nama yang ku kenal
aku makfhum, bukankah berawal dari nama
adam dan hawa menjadi tercipta
hujan di awal juli
kau datang, membawa rindu ke kotaku
kemudian membayang bersama kilat dan hujan,
yang banjir ditengah malam, malam itu
sampang, 13 september 2010
Saturday, January 8, 2011
ingin
ingin
ia bercerita, pendek sekali pagi tadi. tak kurang dari sepuluh kata, penuh airmata.
karang yang ia simpan didadanya. aku melihatnya. tetap tangguh.
meski asinnya, kurasai dimataku.
..................
semalam aku hampir tenggelam dalam pekat.
saat ku ingat, namaku kau rapal disetiap doa doa.
kau sangat ingin di belakangku
menyimak fatihah dan surah surah pendek.
kalau tidak ku lupa, begitulah kira kira.
adikku, sungguh aku ingin lagi membuat puisi untukmu,
menyuguhkan sembilan puluh sembilan purnama di mimpimu
seperti sedia kala,
kala pertama kau titipkan hatimu dihatiku.
tapi, rasanya segala rasa yang kupunyai telah kau rasai.
bahkan nyaris, adikku.
pamekasan, 06 januari 2011
ia bercerita, pendek sekali pagi tadi. tak kurang dari sepuluh kata, penuh airmata.
karang yang ia simpan didadanya. aku melihatnya. tetap tangguh.
meski asinnya, kurasai dimataku.
..................
semalam aku hampir tenggelam dalam pekat.
saat ku ingat, namaku kau rapal disetiap doa doa.
kau sangat ingin di belakangku
menyimak fatihah dan surah surah pendek.
kalau tidak ku lupa, begitulah kira kira.
adikku, sungguh aku ingin lagi membuat puisi untukmu,
menyuguhkan sembilan puluh sembilan purnama di mimpimu
seperti sedia kala,
kala pertama kau titipkan hatimu dihatiku.
tapi, rasanya segala rasa yang kupunyai telah kau rasai.
bahkan nyaris, adikku.
pamekasan, 06 januari 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)