Saturday, January 8, 2011

hujan diawal juli

hujan diawal juli






hujan di awal juli

adalah tubuhmu yang rinai dihalaman

atau seribu kunang kunang melebihi bintang di langit langit kamar

:pertemuan rindu dan rindu, katamu



aku benar benar menjadi angin, saat itu

memeluk mesra tubuhmu

menghalau matahari yang mendera bulan dikepalamu

atau, aku adalah kuas yang melukis di kanvas dadamu



kita banyak bicara soal pendidikan yang tidak mendidik

soal cita cita, soal agama, soal anak sekarang yang suka mengangkat parang

kemudian menusukkannya pada siapa dan apa saja,

soal negara yang pelupa dan alpa bagi kesejahteraan rakyatnya

dan soal soal yang belum pernah terjawab



hujan di awal juli

adalah tubuhmu yang terbentang disepanjang jalan

memaknai kelokan dan tikungan tidup yang mulai redup



di kota lancor, kau tidak saja suka ngoleksi batik,

mengukur jalan, dan malam

tapi kau juga menghapal nama nama yang ku kenal

aku makfhum, bukankah berawal dari nama

adam dan hawa menjadi tercipta



hujan di awal juli

kau datang, membawa rindu ke kotaku

kemudian membayang bersama kilat dan hujan,

yang banjir ditengah malam, malam itu







sampang, 13 september 2010

ingin

ingin






ia bercerita, pendek sekali pagi tadi. tak kurang dari sepuluh kata, penuh airmata.

karang yang ia simpan didadanya. aku melihatnya. tetap tangguh.

meski asinnya, kurasai dimataku.


..................



semalam aku hampir tenggelam dalam pekat.

saat ku ingat, namaku kau rapal disetiap doa doa.

kau sangat ingin di belakangku

menyimak fatihah dan surah surah pendek.

kalau tidak ku lupa, begitulah kira kira.



adikku, sungguh aku ingin lagi membuat puisi untukmu,

menyuguhkan sembilan puluh sembilan purnama di mimpimu

seperti sedia kala,

kala pertama kau titipkan hatimu dihatiku.



tapi, rasanya segala rasa yang kupunyai telah kau rasai.

bahkan nyaris, adikku.








pamekasan, 06 januari 2011