Saturday, October 8, 2011

sajak putih

sajak ini kutulis,
setelah adzan meluruhkan hati
tiba tiba aku ingat padamu
dengan kesendirian sebagai khatijah
yang merindukan muhamad.

kau begitu setia
mengasini rindu dengan tilawah
wirid wirid bening
shalat shalat hening.

aku mencintaimu dengan pasrah
seperti kepasrahan surau surau
menunggu jama'ah
kadang pula seperti sampan
menunggu angin membawanya ke daratan.

sajak ini mahar rinduku padamu
jawaban atas rindumu padaku.


16 mei 2010

Saturday, January 8, 2011

hujan diawal juli

hujan diawal juli






hujan di awal juli

adalah tubuhmu yang rinai dihalaman

atau seribu kunang kunang melebihi bintang di langit langit kamar

:pertemuan rindu dan rindu, katamu



aku benar benar menjadi angin, saat itu

memeluk mesra tubuhmu

menghalau matahari yang mendera bulan dikepalamu

atau, aku adalah kuas yang melukis di kanvas dadamu



kita banyak bicara soal pendidikan yang tidak mendidik

soal cita cita, soal agama, soal anak sekarang yang suka mengangkat parang

kemudian menusukkannya pada siapa dan apa saja,

soal negara yang pelupa dan alpa bagi kesejahteraan rakyatnya

dan soal soal yang belum pernah terjawab



hujan di awal juli

adalah tubuhmu yang terbentang disepanjang jalan

memaknai kelokan dan tikungan tidup yang mulai redup



di kota lancor, kau tidak saja suka ngoleksi batik,

mengukur jalan, dan malam

tapi kau juga menghapal nama nama yang ku kenal

aku makfhum, bukankah berawal dari nama

adam dan hawa menjadi tercipta



hujan di awal juli

kau datang, membawa rindu ke kotaku

kemudian membayang bersama kilat dan hujan,

yang banjir ditengah malam, malam itu







sampang, 13 september 2010

ingin

ingin






ia bercerita, pendek sekali pagi tadi. tak kurang dari sepuluh kata, penuh airmata.

karang yang ia simpan didadanya. aku melihatnya. tetap tangguh.

meski asinnya, kurasai dimataku.


..................



semalam aku hampir tenggelam dalam pekat.

saat ku ingat, namaku kau rapal disetiap doa doa.

kau sangat ingin di belakangku

menyimak fatihah dan surah surah pendek.

kalau tidak ku lupa, begitulah kira kira.



adikku, sungguh aku ingin lagi membuat puisi untukmu,

menyuguhkan sembilan puluh sembilan purnama di mimpimu

seperti sedia kala,

kala pertama kau titipkan hatimu dihatiku.



tapi, rasanya segala rasa yang kupunyai telah kau rasai.

bahkan nyaris, adikku.








pamekasan, 06 januari 2011

Monday, November 15, 2010

sesobek catatan pelayaran bersamamu

sesobek catatan pelayaran bersamamu

(i)
tyas,
pulau asin yang ku janjikan padamu
sudah ku lunasi
delapan puluh sembilan jam, merajam tajam
tubuh kita melepuh di bulan

kau dan aku menikmati panasnya
panas dingin yang tak biasa
barangkali seperti di kotamu
kota yang menyimpan banyak nama pahlawan
sekaligus nama nama jahanam tertanam disana
:jakarta

(ii)
selain bulan asin yang tertusuk lacor
sate lalat dan jeruk hangat
masih menyengat dalam ingatan
kau sangat suka mengukur jalan

“disinilah tempat tidurku beberapa tahun lalu
di trotuar ini
dalam secangkir kopi, aku bermimpi
menjadi inginku dan orang tuaku”

kau hanya mengangguk senyum
matamu binar kaca
seolah ikut merasakan kopi pahit di tubuhku

masihkah kau ingat dinda


(iii)
malam itu
ku batik tubuhmu
kau sangat menggairahkan

dengan warna merah darah
hitam dan biru laut
aku menggambar dengan khusuk
sisik ikan, titik kecil kecil
daun kelapa, lingkaran kecil dan terang

“aku sudah madura kan mas”

(iv)
dibandara
tubuhmu menghilang

aku pulang
membawa bekas bibir dalam genggaman

setumpuk cerita bersamamu
tak cukup ditafsiri
hanya dengan satu puisi




umar faruk mandangin
madura, 5 juli 2010





























akuarium rindu
-kepada ikan kecilku diakuarium hatiku-

suatu waktu, aku bersampan ketengah
melukis bulan sabit pada air laut
wajahmu pucat, burung burung camar berlompatan
dari matamu, mulutmu, kupingmu, hatimu
kepalamu, kelaminmu dan bahkan tubuhmu
membentur gunung ranggas_hatiku
aku mencair, mengalir kelaut:
menjadi asin
menjadi kerang
menjadi karang
kau berteduh ikan kecilku, mengerang
menangisi perang_parang dirumahmu
kotamu mati diujung tower
lampu lampu menipu

begitulah ceritamu membunuhku. entah

sejak saat itulah, aku betah dilaut
menikmati malam dan
bintang yang serupa wajahmu
menghuni kepala dan hatikuku

mula mula, kau malu malu
menyapa sepiku yang tersungkur
dibale bambu halaman pulauku
angin menerbangkan angan

luka yang kueram sekian waktu
pelan pelan menetas. menetas dan
astaugfirullah, aku tak percaya.
saat kudapati tubuhku bertangkai
bunga bunga, kaukah yang menyiramku

“aku mencintaimu sebagai kaum dari ibuku
bukan karena kepala dan tubuhmu”



umar faruk mandangin
madura 24 maret 2010



anakku sekolah di laut

tyas, aku mengerti kau lelah nak
seharian kau belajar bersama matahari
lihat tubuhmu, legam kan
seperti nasib bapakmu ini
tapi tak apalah, pelaut harus bisa menjadi karang
bagi ombak yang selalu datang menyerang

tidurlah nyenyak disisi bonekamu
esok, mulailah lagi bermain pasir
membangun istana dan taman yang indah
buat istirah mimpimu dan teman sepermainanmu
bila perlu berdoalah, memohon pada gusti allah
agar tentara nabi sulaiman sudi membantumu

diantara taman dan musholla istana
ada makam yang bersih dan indah
itu harus nak,
agar kita tak takut
bila sewaktu waktu dengan tiba tiba
keranda menjemput
dengan iring tahlil membawamu pulang.
Pada yang punya

Bukankah hidup seperti menulis novel
kau yang tentukan endingnya tyasku
atau bahkan,
seperti istana pasirmu
setiap ombak megintai pasti
meratakannya kembali menjadi tiada

tapi maaf nak
kau takkan menjadi pelaut seperti diriku
menjala bulan dan bintang
dilipat ombak dan terbakar mentari

angin hanya berdiri, kemudian pergi
membawa mimpi berlari

tapi, kau akan menjadi khatijah
atau fatimah yang ramah dirumah

tidurlah nak, sehabis subuh nanti
kita kemakam
aku sudah rindu berjama’ah dengan ibumu


umar faruk mandangin
madura, 0707200

Saturday, September 18, 2010

mata air, laut dan embun

mata


sudah sefajar ini, mataku belum juga kembali
seharian aku menunggunya dikamar, dilaut, dijalan jalan,
ditempat tempat biasa
tempat aku menangkap angin dan angan
yang kerap melintas bebas disini

suara tarhim dari masjid,
belum cukupkah menjadi pengundang bagimu mataku?
untuk kembali pulang
menemu rindu dikasur dan bantal ini
bukankah kau yang selalu mendorongku
kejurang mimpi dan rindu
menjumpai kekasih dalam tidur

oh mataku, oh mata mataku
bila benar kau memata matai malam
dengan segala senyap yang kau tangkap
aku akan bilang, teruslah mengembara mataku
menjadi samana dirimba maha kasih
karena mencintai adalah mengasihi
mengabdi pada keabadian
wujud
qidam
baqa'
teruslah mataku
mengeja seeja ejanya
sampai lelah tak lagi menyiksamu
dalam tidur dan tidur
sebab pula, bila saatnya
kau akan tidur selama lamanya

mataku, mata mataku
jadilah penglihatanku yang setia
menuntunku hingga akhir masa baktiku

sudah sefajar ini, mataku masih memata mata




embun di pucuk ilalang


mari kita bersampan, adikku
kayuh ketengah, kedadamu
kedalam palung yang paling dalam
:hatimu
menyisir bintang gemintang
sebab malam adalah istirah
buat sujud dan mimpi

bila bulan tak datang malam ini
bukan aku tak rindu padamu
tapi, angin sakal mencari arahnya
yang hilang dan tanggal

mari kita bersampan, adikku
mencari mata air
yang turun temurun dari langit
karena pada langitlah
kita berharap embun
mendamaikan ilalang kering didada ini
sampai kembang adikku
mewangi semerbak cinta kita




lautku, adikku


lautku, adikku
telah mengasini sukmaku
semakin kuteguk,
semakin asin rinduku tergarami
:disini, dipulauku yang amis ini
aku melahirkan sunyi
mengadukan sepi dan senyap
pada pemiliknya yang agung
karena kita, adikku
serupa buih diantar ombaknya
bila kita sedang mujur
setelah ombang ambing, ombak meninggalkan kita dipasir
dan mahari akan mengurainya
kembali tiada
dibanding, kita terus terapung
dibawa air dan angin entah kemana

lautku, adikku
tak selesai selesai menyimpan asin
sebab hidup harus terus berlayar
bahkan puisiku

bila terlalu asin buatmu
itu hanya pengobat luka sementara
karena tidak semua lidah suka makanan bergaram

lautku, adikku
tempatku segala peristiwa dengan sunyi
mengeram rindu bersama ikan ikan

lautku, adikku
telah menjadikan aku karang
yang meneguhkan keyakinan
cintaku padamu

hujan di awal juli

hujan di awal juli
adalah tubuhmu yang rinai dihalaman
atau seribu kunang kunang melebihi bintang di langit langit kamar
:reoni rindu dan rindu, katamu

aku benar benar menjadi angin waktu itu
memeluk mesra tubuhmu
menghalau matahari yang mendera bulan dikepalamu
atau, aku adalah kuas yang melukis dikanvas dadamu

kita banyak bicara soal pendidikan yang tidak mendidik
soal cita cita, soal agama, soal anak anak sekarang yang suka mengangkat parang
menusukkannya pada siapa dan apa saja
dan soal negara yang pelupa dan alpa bagi kesejahteraan rakyatnya

hujan di awal juli
adalah tubuhmu yang terbentang disepanjang jalan
memaknai kelokan dan tikungan tidup yang mulai redup

:disamping rambu lalu lintas
kau membaca papan nama (hati hati rawan kecelakaan)
dan polisi itu tersenyum
selebihnya aku terantuk pada polisi tidur

kau tidak saja suka ngoleksi batik
mengukur jalan dan malam
tapi kau juga mengingat nama nama yang menyapaku
aku maklum, berawal dari nama adam dan hawa menjadi bijaksana

hujan di awal juli
kau datang
membawa rindu kekotaku
kemudian membanya kembali
bersama kilat dan hujan yang banjir ditengah malam, malam itu

sampang, 2010

pukul kosong kosong

malam merambat pelan
rambutmu yang jalan raya semakin maya
duniaku
duniamu
bertemu disimpang bulan sabit
pada pucuknya, kita memanjat
seperti alif yang tak pernah selesai ditafsiri
bahkan para sufi

aku ingin menjamumu malam ini
dengan sepesang mata
sambil mengajakmu mengitari sepi
menepi dan sunyi
disini
didadaku ini