Saturday, September 18, 2010

mata air, laut dan embun

mata


sudah sefajar ini, mataku belum juga kembali
seharian aku menunggunya dikamar, dilaut, dijalan jalan,
ditempat tempat biasa
tempat aku menangkap angin dan angan
yang kerap melintas bebas disini

suara tarhim dari masjid,
belum cukupkah menjadi pengundang bagimu mataku?
untuk kembali pulang
menemu rindu dikasur dan bantal ini
bukankah kau yang selalu mendorongku
kejurang mimpi dan rindu
menjumpai kekasih dalam tidur

oh mataku, oh mata mataku
bila benar kau memata matai malam
dengan segala senyap yang kau tangkap
aku akan bilang, teruslah mengembara mataku
menjadi samana dirimba maha kasih
karena mencintai adalah mengasihi
mengabdi pada keabadian
wujud
qidam
baqa'
teruslah mataku
mengeja seeja ejanya
sampai lelah tak lagi menyiksamu
dalam tidur dan tidur
sebab pula, bila saatnya
kau akan tidur selama lamanya

mataku, mata mataku
jadilah penglihatanku yang setia
menuntunku hingga akhir masa baktiku

sudah sefajar ini, mataku masih memata mata




embun di pucuk ilalang


mari kita bersampan, adikku
kayuh ketengah, kedadamu
kedalam palung yang paling dalam
:hatimu
menyisir bintang gemintang
sebab malam adalah istirah
buat sujud dan mimpi

bila bulan tak datang malam ini
bukan aku tak rindu padamu
tapi, angin sakal mencari arahnya
yang hilang dan tanggal

mari kita bersampan, adikku
mencari mata air
yang turun temurun dari langit
karena pada langitlah
kita berharap embun
mendamaikan ilalang kering didada ini
sampai kembang adikku
mewangi semerbak cinta kita




lautku, adikku


lautku, adikku
telah mengasini sukmaku
semakin kuteguk,
semakin asin rinduku tergarami
:disini, dipulauku yang amis ini
aku melahirkan sunyi
mengadukan sepi dan senyap
pada pemiliknya yang agung
karena kita, adikku
serupa buih diantar ombaknya
bila kita sedang mujur
setelah ombang ambing, ombak meninggalkan kita dipasir
dan mahari akan mengurainya
kembali tiada
dibanding, kita terus terapung
dibawa air dan angin entah kemana

lautku, adikku
tak selesai selesai menyimpan asin
sebab hidup harus terus berlayar
bahkan puisiku

bila terlalu asin buatmu
itu hanya pengobat luka sementara
karena tidak semua lidah suka makanan bergaram

lautku, adikku
tempatku segala peristiwa dengan sunyi
mengeram rindu bersama ikan ikan

lautku, adikku
telah menjadikan aku karang
yang meneguhkan keyakinan
cintaku padamu

No comments:

Post a Comment