sesobek catatan pelayaran bersamamu
(i)
tyas,
pulau asin yang ku janjikan padamu
sudah ku lunasi
delapan puluh sembilan jam, merajam tajam
tubuh kita melepuh di bulan
kau dan aku menikmati panasnya
panas dingin yang tak biasa
barangkali seperti di kotamu
kota yang menyimpan banyak nama pahlawan
sekaligus nama nama jahanam tertanam disana
:jakarta
(ii)
selain bulan asin yang tertusuk lacor
sate lalat dan jeruk hangat
masih menyengat dalam ingatan
kau sangat suka mengukur jalan
“disinilah tempat tidurku beberapa tahun lalu
di trotuar ini
dalam secangkir kopi, aku bermimpi
menjadi inginku dan orang tuaku”
kau hanya mengangguk senyum
matamu binar kaca
seolah ikut merasakan kopi pahit di tubuhku
masihkah kau ingat dinda
(iii)
malam itu
ku batik tubuhmu
kau sangat menggairahkan
dengan warna merah darah
hitam dan biru laut
aku menggambar dengan khusuk
sisik ikan, titik kecil kecil
daun kelapa, lingkaran kecil dan terang
“aku sudah madura kan mas”
(iv)
dibandara
tubuhmu menghilang
aku pulang
membawa bekas bibir dalam genggaman
setumpuk cerita bersamamu
tak cukup ditafsiri
hanya dengan satu puisi
umar faruk mandangin
madura, 5 juli 2010
akuarium rindu
-kepada ikan kecilku diakuarium hatiku-
suatu waktu, aku bersampan ketengah
melukis bulan sabit pada air laut
wajahmu pucat, burung burung camar berlompatan
dari matamu, mulutmu, kupingmu, hatimu
kepalamu, kelaminmu dan bahkan tubuhmu
membentur gunung ranggas_hatiku
aku mencair, mengalir kelaut:
menjadi asin
menjadi kerang
menjadi karang
kau berteduh ikan kecilku, mengerang
menangisi perang_parang dirumahmu
kotamu mati diujung tower
lampu lampu menipu
begitulah ceritamu membunuhku. entah
sejak saat itulah, aku betah dilaut
menikmati malam dan
bintang yang serupa wajahmu
menghuni kepala dan hatikuku
mula mula, kau malu malu
menyapa sepiku yang tersungkur
dibale bambu halaman pulauku
angin menerbangkan angan
luka yang kueram sekian waktu
pelan pelan menetas. menetas dan
astaugfirullah, aku tak percaya.
saat kudapati tubuhku bertangkai
bunga bunga, kaukah yang menyiramku
“aku mencintaimu sebagai kaum dari ibuku
bukan karena kepala dan tubuhmu”
umar faruk mandangin
madura 24 maret 2010
anakku sekolah di laut
tyas, aku mengerti kau lelah nak
seharian kau belajar bersama matahari
lihat tubuhmu, legam kan
seperti nasib bapakmu ini
tapi tak apalah, pelaut harus bisa menjadi karang
bagi ombak yang selalu datang menyerang
tidurlah nyenyak disisi bonekamu
esok, mulailah lagi bermain pasir
membangun istana dan taman yang indah
buat istirah mimpimu dan teman sepermainanmu
bila perlu berdoalah, memohon pada gusti allah
agar tentara nabi sulaiman sudi membantumu
diantara taman dan musholla istana
ada makam yang bersih dan indah
itu harus nak,
agar kita tak takut
bila sewaktu waktu dengan tiba tiba
keranda menjemput
dengan iring tahlil membawamu pulang.
Pada yang punya
Bukankah hidup seperti menulis novel
kau yang tentukan endingnya tyasku
atau bahkan,
seperti istana pasirmu
setiap ombak megintai pasti
meratakannya kembali menjadi tiada
tapi maaf nak
kau takkan menjadi pelaut seperti diriku
menjala bulan dan bintang
dilipat ombak dan terbakar mentari
angin hanya berdiri, kemudian pergi
membawa mimpi berlari
tapi, kau akan menjadi khatijah
atau fatimah yang ramah dirumah
tidurlah nak, sehabis subuh nanti
kita kemakam
aku sudah rindu berjama’ah dengan ibumu
umar faruk mandangin
madura, 0707200
sip pak
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeletemaksudku. aku juga suka puisi penyair mandangin yang satu ini. puisinya mengalir seperti air pancoran.
Delete